2015 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 17,000 times in 2015. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 6 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Categories: Refleksi Kehidupan | Leave a comment

Saksi Nikah, Apa atau siapa?

Dalam kaitan dengan pernikahan Katolik dikenal dua macam saksi: saksi kanonik dan saksi nikah, di hari pengucapan janji nikahnya. Syarat umum adalah bahwa seorang saksi mesti dewasa usia dan pribadinya, sehat jiwa dan raganya; laki-laki atau perempuan. Sebab dia dituntut untuk bertanggungjawab atas apa yang jadi kesaksiannya.

Saksi Kanonik

Saksi kanonik diperlukan ketika calon pengantin bukan Katolik. Saksi diperlukan untuk status liber seorang calon pengantin. Dia harus berani dan bersedia di bawah sumpah bersaksi bahwa seorang yang diberi kesaksian memang benar-benar belum pernah menikah atau tidak sedang dalam ikatan pernikahan dengan seseorang. Karena itu, saksi ini haruslah “orang luar”, bukan berasal dari lingkungan keluarga atau saudara dekat dari yang diberi kesaksian ataupun saudara dekat calon mempelai berdua. Hal ini dimaksudkan agar kesaksiannya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan, karena tidak ada konflik kepentingan.

Saksi ini pun harus sudah cukup lama mengenal calon yang diberi kesaksian. Kalau mengenalnya baru hitungan bulan atau malah minggu, tentu sulit dipertanggungjawabkan. Dia harus orang yang sudah cukup lama, bertahun sudah mengenal calon. Dan menurut pengenalannya, si calon ini memang berstatus liber.

Saksi Kanonik juga diperlukan kalau pastor merasa kurang yakin akan cintanya kedua calon pengantin. Kalau saya kurang yakin akan cinta kedua atau salah satu calon pengantin, saya juga akan meminta kesaksian, atau dukungan dari orang ketiga. Karena pengenalan saya tentu terbatas.

Dalam pengalaman saya, saya malah pernah mengundang pengurus lingkungan di mana kedua calon pengantin hidup sehari-hari. Mereka saya tanting dan saya tantang. Saya minta kesanggupannya untuk mendampingi kedua calon pengantin setelah menikah nanti. Ini terjadi karena saya tidak yakin akan cinta mereka. Sebab kecuali usia juga mereka baru hitungan bulan saling mengenal dan kemudian memutuskan menikah karena alasan tertentu. Kepada ketua dan warga lingkungan saya tegaskan bahwa saya tidak berani memberkati pernikahan mereka, sebab saya tidak cukup yakin akan cinta mereka. Tetapi kalau ketua lingkungan sanggup bertanggungjawab dan bersedia mendampingi keluarga baru tersebut, saya akan memberkati mereka. Dan ternyata ketua dan warga lingkungan menyanggupinya. Kini pasangan tersebut hidup bahagia dengan anak-anak mereka. Bayangkan kalau saya bersikeras tak mau memberkati mereka, … pastilah mereka sakit hati dan itu mengganggu hidup berkeluarga mereka.

Saksi Nikah

Untuk menjadi saksi nikah sebenarnya lebih mudah. Sebab tugas mereka “hanyalah” mewakili masyarakat menjadi saksi bahwa kedua orang yang disaksikannya memang benar sungguh sudah menikah secara sah. Saksi ini tidak ikut bertanggungjawab atas pernikahan kedua mempelai. Dia hanya menjadi saksi bahwa keduanya telah menikah secara sah.

Pastor atau pendeta yang memimpin ekaristi/ibadat pernikahan sebenarnya juga “cuma” seorang saksi. Dia menjadi saksi, mewakili Gereja, bahwa keduanya memang sudah benar-benar menikah secara sah menurut agama dan menurut negara.

Semoga dengan demikian menjadi jelas bahwa yang bertanggung jawab atas persiapan dan terjadinya penikahan Katolik adalah pastor yang mengadakan penyelidikan kanonik atas kedua calon pengantin. Sama sekali bukan menjadi tanggung jawab pastor yang memberkati mereka. Karena itu, sebenarnya fungsi pastor dapat digantikan oleh wakil Gereja resmi seperti misalnya Diakon tertahbis. Bahkan seorang prodiakon yang diberi delegasi oleh pastor parokinya pun dapat memimpin ibadat pernikahan ini. Mengapa? Karena dia hanyalah saksi juga atas pernikahan yang dilangsungkannya.

Maka, untuk menjadi seorang saksi nikah, sebenarnya boleh dan sah saja, saudara dekat dari kedua mempelai. Apakah laki-laki atau perempuan, semuanya boleh menjadi saksi nikah. Sekali lagi mereka hadir menjadi saksi sebagai wakil masyarakat/publik. Sebab sebuah pernikahan, menjadi sah ketika kedua mempelai mengucapkan janji nikah di hadapan publik. Dalam hal ini publik diwakili oleh dua orang saksi, ditambah pemimpin pemberkatan, lebih kuat lagi kalau ada hadirin yang lain. Tetapi seandainya,tidak ada yang hadir pun,asalkan sudah ada 2 orang saksi, sebenarnyakah itu sudah boleh dinyatakan sah.

Semarang, 11 Oktober 2015

Categories: Refleksi Kehidupan | Leave a comment

Pembatalan Pernikahan Katolik

Ini adalah sebuah kisah nyata. Kisah ini dialami seorang pemudi Katolik.

Sudah bebarapa waktu saya memperhatikan seorang ibu, pengantin baru. Ibu ini muda ini baru menikah dua bulan sebelumnya, tapi kok tidak lagi runtang-runtung dengan suaminya.
Setelah ada kesempatan saya bertemu dan menanyakan persoalannya, saya menyimpulkan bahwa pernikahannya sebaiknya dibatalkan, sebelum kedaluwarsa waktunya. Mengapa?
Saya menduga suaminya tidak cukup satria untuk berkata jujur. Sebelum pernikahan, suaminya kost di rumah ibu muda ini. Dan telah diperlakukan seakan anak sendiri. Tiap sore dibuatkan kopi oleh ibu calon mertuanya. Demikian sehingga suami pengantin baru ini tidak enak kalau sampai tidak jadi menikah dengan ibu muda ini. Ia tidak tega menyakiti hati ibu mertuanya. Rupanya ia memilih melangsungkan pernikahan, daripada bikin malu calon istri dan calon mertua.Dan akhirnya, terjadilah pernikahan tersebut. Tetapi tak sampai dua bulan sesudah menikah, si suami ini sudah menggandeng cewek lain, konon malah sudah hidup seatap dengan gadis pilihannya.
Saya juga menanyai ibu mertua (pemilik kost) untuk memastikan dugaan saya bahwa si ibu telah “menggiring” calon mantunya agar menikah dengan anak gadisnya. Dan itu memang diakui, sama seperti dugaan saya. Dengan kata lain, telah terjadi penipuan dalam pernikahan tersebut.
Kemudian saya menjajagi “cinta” ibu muda pengantin baru tersebut. Lantas saya tantang, mau nggak membatalkan pernikahannya? Ibu muda ini sepakat dan semangat untuk membatalkan saja. Baru sesudah itu proses pembatalan pernikahan (anullasi) dimulai. Ia saya meminta menuliskan apa saja (SMS, telepon, cerita teman-teman, dll) yang dapat dijadikan bukti bahwa suaminya telah menikahinya hanya karena merasa tidak enak kalau “tidak jadi ada pernikahan”. Saya membantunya untuk mengumpulkan dan merumuskan bukti-bukti yang ada.
Ibu muda ini saya minta menghubungi pastor paroki di tempat melangsungkan pernikahannya, dan meminta untuk membantu membatalkan pernikahannya. Demikianlah, proses pembatalan ini mulai dilakukan, September 2013 lalu. Selama proses penyiapan, ibu ini mengalami banyak resistensi/perlawanan dari orang-orang Katolik yang “baik” yang tidak setuju, atau mengalah menyalahkan. Mereka yakin bahwa pernikahan Katolik tidak dapt dibatalkan. Tetapi saya meyakinkannya, bahwa pernikahannya bisa dibatalkan. Dan itu bukan dosa. Malah berdosa kalau hanya diam saja, sebab itu akan menutup masa depannya.

Setelah menanti dan menunggu serta saya bantu tanyakan kepada para hakim Gereja yang berwenang. Maka akhirnya, Surat keputusan pembatalan pernikahan dari Gereja turun bulan September 2014 lalu. Bulan lalu ia telah menunjukkan surat babtisnya yang terbaru kepada saya. Di sana ibu itu telah berstatus liber, artinya belum pernah menikah. Jadi, si pengantin putri, ibu muda yang sudah 2 bulan menjadi istri, kini jadi mudika kembali. Kalau tiba waktunya nanti bertemu belahan jiwanya, ia boleh dan dapat menikah secara Katolik.

Pernikahan orang Katolik harus berdasarkan cinta dari kedua mempelai. Tidak boleh berdasarkan rasa tidak enak, atau malu, atau paksaan siapa pun juga juga tidak boleh terjadi pernipuan. Ya menipu pastornya, menipu keluarganya, apalagi menipu pasangannya. Kalau terjadi penipuan, maka sebenarnya pernikahan tersebut otomatis batal. Meskipun demikian, Gereja tidak mungkin membatalkan pernikahan kalau tidak diminta oleh yang berkepentingan.

Banyak salam
Widadaprayitna

Categories: Refleksi Kehidupan | 67 Comments

Retret Keluarga 2014

Retret Keluarga 2014

Silakan kalau pengalaman ini dapat memberi inspirasi

Categories: Refleksi Kehidupan | Leave a comment

Mars Taman Putra

Mars Taman Putra

Categories: Refleksi Kehidupan | Leave a comment

Lakon Bima Bungkus

Bima kurda/Bima bungkus
itu adalah lakon wayang kontemporer yang semalem dipentaskan di lapangan SD Antonius Banyumanik.
Satu hal menarik hati saya bersama istri, karena lakon mengandung falsafah kehidupan, atau malah refleksi iman. Dikisahkan bahwa waktu Bima dilahirkan Kunti, masih dalam keadaan terbungkus placenta. Dari lahir sampai 7 th, Ari-ari itu belum pecah juga, sehingga si bayi bungkus itu ditaruh di hutan, ditunggui.  
Bersamaan waktunya ada gajah bernama Seno, yang bertapa, sdh 7 th juga. Gajah ini bertapa karena ingin mati dan dikubur seperti manusia. Kenyataan tersebut membuat goncang Kahyangan, negeri para dewa. Maka betara Guru, mengutus betara Bayu untuk: 1 masuk ke placenta yg membungkus Bima, agar mendandani bayi itu, dan 2,  minta ke Sena memecahkan placenta Bimo.
Singkat cerita gajah Sena lah yang memecahkan placenta dengan menginjak-injak, menusuk dengan gadingnya. Akhirnya pecahlah placenta itu dan lahirlah Bima, sudah besar. Dan Bima lalu membunuh gajah Sena. Bima lahir, Sena mati, maka nama kecil Bima adalah Bratasena.

Refleksi kami:
kadang kita perlu diinjak-injak dan ditusuk-tusuk dulu supaya dapat dilahirkan. Sering kita dak dapat menerima, perlakuan orang lain yang terasa menginjak-injak kita atau menusuk kita. Kita mengira kalau orang lain, (Sena) itu orang jahat pada pada kita. Padahal, mungkin dia diutus Tuhan untuk memcahkan placenta kita, supaya kita dapat dilahirkan jadi manusia sesuai rencana dan kehendakNya.

Categories: Refleksi Kehidupan | Leave a comment

Semangat Perawat

Teks lagu ini saya tulis hampir 8 tahun yang lalu. Saya tulis ketika anak saya Michelle Amanda Weningtyas. Tetapi baru sekarang ada yang bersedia mengubahnya menjadi sebuah lagu. Terimakasih pak Mitro yang telah membantu mewujudkan mimpi ini.

Tujuan saya adalah membuatkan mars untuk para perawat Pantirapih waktu itu. Tetapi, teks nya tentu dapat dinyanyikan oleh setiap perawat, di mana pun juga.

Sayang belum jadi 4 suara. Kalau ada teman yang sedia mengaransir menjadi SATB, saya sangat berterimakasih karenanya.

Silakan mencoba, syukur memanfaatkannya.

Banyak salam, Image

Categories: Refleksi Kehidupan | Leave a comment

Pelabuhan

Pelabuhan

Karya Amanda, 11 Jan 2013

Categories: Refleksi Kehidupan | Leave a comment

Pendidikan Leadership

imagesPaus mengundurkan diri, ini jarang terjadi. Suatu keputusan yang pantas dipuji, walau ada banyak reaksi, maupun sangsi. Demi kebaikan seluruh Gereja, paus mengundurkan diri. Yang jelas, ini preseden positif bagi seorang pemimpin sejati. Sekaligus sebuah contoh dan tamparan buat para pemimpin dunia saat ini.  Tak ada gengsi, kelompok atau pribadi,  yang perlu dipertahankan. Paus ini memilih tanggungjawab sebagai alasan utama. Sebab memang demikianlah, hakikat seorang pemimpin justru terletak pada nilai tanggungjawabnya tersebut. Jauh dari orientasi diri pribadi, maupun orientasi politiknya. Hanya satu orientasinya: kebaikan semua.

Walau banyak orang sebenarnya berlawanan dan tidak menyukai keputusan paus mengundurkan diri, saya sebaliknya. Saya justru mengacungi jempol, atas leadership decision ini. Sebab, jujur saja, dewasa ini siapa di antara kita yang meletakkan kebaikan semua yang dipimpinnya di atas kepentingan diri atau kepentingan politiknya? Rasanya sulit sekali ditemukan.

Mulai dengan di keluarga kita. Siapa di antar ayah/ibu yang berani meng’aku’ salah keliru demi kebaikan semua? Biasanya kita mati-matian mempertahankan diri, dengan segudang kata, segedung teori « kebenaran ». Padahal, seandainya kita pikir dan bertindak demi kebaikan semua, dalam hal ini seluruh keluarga, kita meng’aku’ : « saya yang salah, saya minta maaf, lain kali saya tak lagi. » Silakan coba para bapak : saat ber’antem dengan istri yang lagi emosi.  Silakan coba para orang tua, ketika kita ber’antem dengan anak kita, yang lagi emosi. Bahkan mungkin hal semacam itu juga bisa kita terapkan dalam dalam interaksi dengan sesama di masyarakat. Dalam bahasa negatif, orang mengatakan : « sing waras ngalah », yang tidak gila mengalah saja. Setidaknya energi kita tidak terbuang sia-sia. Hidup kita lebih heppi, juga mudah bersyukur sebab kita sanggup mengalahkan diri¸atau gengsi kita.

images5

Demikian nampak sekali ke-agung-an pimpinan Gereja Katolik, Paus Benediktus XVI ini. Ia mundur, -bukan malah maju tapi ngawur- justru demi tanggungjwabnya sebagai pimpiman. Saya jadi ingat Mgr Leo Soekoto, SJ yang mengundurkan diri sebelum waktunya selesai jadi uskup agung Jakarta. Mgr Darmaatmadja, Sj, Kardinal Darmojuwono, Pr juga demikian. Hayo siapa ikut, para pastor, ketua-ketua komisi, ketua seksi, ketua lingkungan? Demi kebaikan semua!

Yustinus_Cardinal_Darmoyuwono_ 3-Mgr_Leo_Soekoto_SJ  index

Categories: Pola Pikir, Refleksi Iman, Refleksi Kehidupan, Visi tentang Gereja | Leave a comment

hanya perempuan yang Katolik

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 673 other followers