Belajar (lagi) dari Amanda
Amanda, anak pertama kami, dari kandungan sudah berkomunikasi dengan mamanya dalam bahasa Inggris. Jadi, di usia TK, berkomunikasi dalam bahasa Inggris sudah tidak ada masalah sama sekali. (waktu pertama masuk TK malah belum bisa berbahasa Indonesia dengan lancar). Tetapi bahwa Amanda harus mengikuti Spelling Competition, itu tak terbayangkan oleh kami berdua sebagai orangtuanya.
Pertama saya menolak. Alasannya, saya tidak melihat nilainya belajar spelling untuk anak TK. Saya cari tahu, dan mau belajar, siapa yang dapat menjelaskan kenapa anak TK kok lomba spelling. Salah satu teman yang pernah mendalami Bahasa Inggris memberi clue: karena anak antusias sekali kalau dapat mengeja dengan benar dan dengan suara keras. Ia menambahkan, banyak anak Indonesia yang mampu meraih nilai tinggi untuk spelling ketika harus tes masuk sekolah di luar negeri, tapi kemudian prestasinya menurun karena tidak bisa menjawab, mengekspresikan, dan mengkomunikasikan idenya dalam Bahasa Inggris. Saya mengerti penjelasan tersebut tetapi saya belum bisa menerimanya.
Mamanya Amanda mengingatkan saya akan semangat entrepreneurship kami. Kami memang belum pernah secara khusus mengajari Amanda membaca dan mengeja dalam Bahasa Inggris, bahkan juga dalam Bahasa Indonesia. Amanda baru TK, masa-masanya bermain, jadi biar saja dia belajar lewat bermain. Jadi, keputusan untuk ikut lomba Ini kan tantangan buat Amanda dan buat kita juga. Dan nanti kita cari pembelajarannya.
Inilah pembelajaran tersebut:
- Tantangan
Kompetisi adalah tantangan dan kesempatan buat Amanda dan buat kami juga. Ini kesempatan untuk ‘keluar’ dari TK Amanda, dan bertemu dengan teman-teman dari sekolah-sekolah lain. Ini juga kesempatan untuk belajar menulis, membaca, dan mengeja dalam Bahasa Inggris. Bagi kami, ini jadi tantangan bagaimana menyiapkan Amanda belajar spelling dalam waktu sekitar seminggu. Bagaimana mamanya Amanda dapat menemukan cara untuk membuat Amanda senang belajar spelling dalam waktu yang terbatas.
Di luar bayangan kami, ternyata Amanda sungguh fast learner. Kemampuan belajarnya tiap hari maju pesat. Ini mengagumkan, sekaligus menyadarkan kami bahwa kami toh belum mengoptimalkan potensinya. Artinya Amanda masih sanggup ditantang lebih dari yang sudah lakukan selama ini.
- Project Management
Karena kami ingin lomba ini adalah keinginan anak, maka pertama-tama kami tanya Amanda dulu. Seperti biasa, kami menawarkan ke Amanda apa ia mau ikut lomba spelling Bahasa Inggris. Jawabnya, jelas dan tegas “I will!”.
Langkah selanjutnya adalah menjadikan lomba ini sebagai project keluarga. Kami terinspirasi dari sekolah di Jerman, bahwa setiap PR, tugas, atau apapun juga merupakan sebuah project bagi murid-muridnya. Mereka menentukan sendiri kapan project itu selesai, bagaimana menyelesaikannya, dan mereka juga diminta untuk menyampaikan bagaimana pengalaman mereka mengerjakan proyek tersebut. Bagaimana perasaan mereka, bagaimana pendapat mereka atas tugas yang diberikan, dan usulan mereka untuk tugas berikutnya.
Kita pun membagi tugas. Kita punya waktu seminggu untuk menyiapkan diri. Amanda kita ajak mendisain projectnya sendiri. Ia menentukan sendiri hari ini belajar numbers, besok belajar animals, lusa belajar transportation, dsb. Amanda juga harus me-manage kapan harus mengerjakan tugas sekolah, kapan belajar untuk lomba, tidur, main, dan yang terpenting kapan nonton movie (her favorite time, dan ini nggak boleh ketinggalan … hehehehe ..). Mamanya menyiapkan bahan-bahan, fotocopy, gunting gambar, tempel gambar, sedemikian rupa seperti testnya nanti. Ini seperti me-recall pengalamannya waktu jadi guru Bahasa Inggris untuk SD Kanisius di Yogya dulu. Beruntung ada banyak buku dan cards Teko Cilik yang bisa dipakai sebagai sarana belajar.
Dan sekali lagi, kami terkagum-kagum akan kedisiplinan Amanda tertip rencananya. Ia sendiri konsekuen dan konsisten dengan rencananya. Kalau lelah, dia mengubah rencananya dan menjalaninya seperti maunya.
- Self confindence
Di hari H perlombaan, mamanya lebih deg-degan daripada Amanda. Maklum, mamanya dulu selalu juara dari TK sampai SMA… heheheh … Dan kami melihat dengan mata kepala kami, sambil geleng-geleng kepala, betapa Amanda memasuki ruang perlombaan dengan santai dan yakin. Dia sudah happy, jadi peserta lomba, dan diantar oleh kedua orangtuanya dan adik tercintanya. Ada beberapa peserta yang masih menangis di ruang lomba, karena minta ditunggui mamanya. Amanda sama sekali tak perlu orangtuanya. Kami bilang be yourself, do your best.
- Nilai sebuah kesuksesan
Sejak semula, kami sepakat untuk tidak meletakkan nilai kesuksesan pada pemenang lomba di hari H nya. Berkali dan kami ulang terus-menerus keyakinan kami dan keyakinan Amanda bahwa the real winner, is when you beat yourself. Try all the best. Jangan besar kepala ketika menang lomba, Jangat menangis kala tak menang lomba.
Kami bilang ke Amanda, seminggu lalu Amanda belum bisa menulis, mengeja dan membaca dalam Bahasa Inggris. Sekarang Amanda sudah mulai mengenal dan bisa menulis, mengeja, dan membaca beberapa kata dalam Bahasa Inggris. So, you have already won! Bahkan Aubrey sekarang terbiasa em, si, ke, bla.. bla .. hehehehe … walaupun dia sendiri belum mengerti maksudnya apa …
Ketika babak I selesai, Amanda memang tidak menang, atau masuk 10 besar, atau maju ke final. Tetapi, dari 25 soal spelling, Amanda betul 21. Mamanya surprise sendiri, tidak menyangka. Karena Amanda senang dan tidak takut ikut lomba saja kami sudah senang.
Kami tanya Amanda gimana perasaannya ikut lomba, dan tidak menang kali ini. “I am oke, and I still can make it some other time,” katanya. Amanda sudah menang sebelum maju lomba. Amanda happy, Aubrey happy, kami happy. Itulah prinsip kami belajar bahasa : senang!
Semarang, Maret 2011
Recent Comments