Final Appraisal

Orang sering bertanya pada saya. Kenapa ya orang baik kok mati muda. Dan orang jahat kok gak mati-mati. Itu kan tidak adil.

Sebenarnya itu rahasia Allah, atau rahasia kehidupan ini. Tetapi ini yang ada di pikiran saya:

Biasanya orang menilai  diri atau orang lain berdasarkan waktu sekarang ini. Sekarang ini dia jahat, kok masih melenggang. Sedang saya yang mati-matian berbuat baik justru mendapat perlakuan seperti ini. Rentang waktu itu harus diperpanjang. Diselesaikan, dihitung pada saat kita menghadap yang ilahi. Artinya hidup kita, tidak berakhir hari ini. Akhir hidup itu akan datang di suatu saat nanti. Saat itu, boleh complain atau menuntut padaNya tentang keadilan. Karena itu hidupnya penuh syukur. Tidak perlu iri hati ketika merasa orang lain lebih. Tidak perlu sombong diri ketika merasa lebih dari orang lain. Usahalah sekeras dan secerdas mungkin. Sisahanya, hasilnya, biar Dia juga bekerja dalam dan untuk hidup kita. Yang diberi banyak diminta banyak. Jadi yang terpenting usaha maksimal, optimal sesuai yang kita terima dariNya.

Di sini baru ada potensi masalah. Karena sedikit saja orang mampu walau mau, bersyukur. Kebanyakan orang tak sanggup melihat apa apa saja yang diterima dariNya. Banyak yang mengira “semua” hasil jerih payahnya sendiri, tanpa campur tanganNya. Sumangg, silakan. Itu pilihan kok, asal jangan terlambat merasa bertobat!

Pikiran akan “kekurangan” kita, hanya akan membuat kita iri, dan jarang bersyukur, maka juga jauh dari makmur. Lebih mulia, pikirkan akan “kelimpahan” yang kita terima dariNya, lewat orang-orang tercinta, lewat hidup kita sampai hari ini, dan masih akan dibanjiri lagi anugerah itu….Juga tidak perlu pikirkan, atau pusingkan tentang penilaian akhir, “final appraisal”… yang penting do something real, actual, social, for others…itu lebih dari cukup.

Categories: Hidup Beriman, Kasih dan Iman, Pola Pikir | Leave a comment

Dengan apa kan kuumpamakan?

di perjalananku dari benua ke benua,

tak kutemukan yang secantik dirimu

di perjalanan sejarah hidup,

tak ada yang semempesona dirimu

selama hidupku bersamamu

tak ada yang seindah berbagi kasih denganmu

dalam merangkai masa depan hidupku,

tak ada yang seinspiratif dirimu,

dalam belajar mencinta sesama

tak ada yang segigih dirimu

lalu dengan apa kan kuumpamakan dirimu?

tak ada kata yang mampu menanmpung makna kebersamaan kita

tak ada bunyi yang lebih indah daripada kala kita merenda cinta,

di antara emosi dan misi keluarga kita.

Hari ini, ku ingin kau tahu istriku

bahwa aku pernah, sudah, sedang, dan akan selalu mencintaimu

jika pernah kauragu akan cintaku, tataplah panggilan hidup  kita

jika pernah kau sakit di hati, ingatlah kisah kasih keluarga Maria-Yosep

bersama kita melangkah, menapaki jalan menuju   mimpi  kita

mengidungkan nyanyian hati bermelodi  gairah kasih keluarga kita.

Selamat Ulang Tahun Istriku

hari ini 12 Mei , dulu kau dilahirkan eyang.

Cium sayang dariku

suami dan anak-anak mu.

Categories: Keluarga | Leave a comment

Perjalanan Hidup

Perjalanan hidup
Insight ini kudapat dari perjalanan saya naik motor dari Banyumanik -Sigarbencah -Pedurungan Semarang. Pagi ini jalan di antara perbukitan itu tidak seperti kemarin pagi: berkabut. Tetapi ada yang lebih menarik daripada kabut pagi. Saya mendapat insight.

Ketika saya, -saya kira setiap orang juga- naik motor, jelas yang saya lihat adalah jalan di depan saya. Saya belok kanan atau kiri, saya gas atau rem tergantung pada kondisi jalan di depan saya. Sama sekali saya tidak memikirkan jalan di belakang saya: berlubang, berliku. Fokus dan konsentrasi saya jelas ke depan: memilih jalan terbaik di depan saya.

Berbeda rupanya kala kita melihat jalan hidup kita. Terlalu sering, kita sibuk meratapi jalan sulit yang telah kita lalui dalam hidup kita. Begitu mudah kita cerita kesulitan perjalanan hidup kita yang lalu. Jarang, kita berbagi tentang jalan yang membentang di depan kita. Tak biasa kita fokus pada jalan mulus di depan mata yang akan kita lalui, menghindari rintangan tuk  mencapai tujuan.
Setidaknya, ini yang akan kumulai dalam diri saya dan keluarga saya: fokus pada menemukan jalan terindah di depanku. Takkan kubiarkan pikiran, perasaan, pengalaman tak nyaman dalam perjalanan hidupky yang lalu menyita energi ku.

Memikirkan, memimpikan jalan hidup di depan kita jauh lebih inspiratif dan motivatif.

Categories: Hidup Beriman | Leave a comment

Menanam padi, makan kacang

Alam sudah mengajarkan. Tetapi kita sering kurang menyadari. Kalau orang hanya makan dari apa yang ditanamnya sendiri, itu tidak alami. Padi yang ditanamnya akan sisa atau kelebihan. Begitu pula yang menanam kacang. Maka yang terjadi, terjadi pertukaran. Demikian sehingga yang menanam padi pun dapat makan kacang dan sebalik. Itu proses alami.

Dalam hidup sebenarnya demikian juga. Tetapi banyak orang, mungkin kita juga, yang berpikir melawan alam itu. Itulah yang terjadi, ketika kita berbuat baik, atau membantu seseorang, A, misalnya. Sering tanpa sadar kita berharap akan mendapat “balasan” dari A. Yang sebenarnya terjadi adalah kita berbuat baik pada A, dan kita menerima kebaikan, (biasanya lebih) dari B. Itu juga proses alami kehidupan.

Kesimpulannya, kalau kita mau berbuat baik, tak perlu mengharapkan kebaikan dari dari orang yang sama. Tidak perlu kecewa, apalagi marah, jika orang yang kita “baiki” seakan tak tahu diri atau tak tahu balas budi. Pokoknya kita berbuat baik. Karena itu, kita jdi lebih terbuka akan kebaikan yang diberikan oleh orang-orang lain lagi. Kedua, kalau kita mau berbuat baik, juga tidak perlu kriteria lain, kecuali bahwa orang itu itu membutuhkan uluran tangan kita. Siapa pun dia, apa pun suku, atau agamanya. (banyak orang terjebak, hanya mau berbuat baik pada orang yang seagama). Orang Kristen tahu, Yesus tidak hanya berbuat baik pada orang yang seagama/suku Yahudi, tetapi kepada siapa pun yang sakit, yang buta, lumpuh dll.

Di sekitar kita masih ada banyak orang yang “sakit” pikiran, hati, rasanya. Jangan ragu kita menerima undangan dari Tuhan untuk berbuat kebaikan tersebut, kapan pun dan di mana pun.  Untuk menanam kacang, kita tidak perlu menanam kacang.

Selamat berbuat baik. Satu saja untuk hari ini, dan satu lagi untuk hari esok. Seminggu kita sudah akan menanam 7 kebaikan.

Categories: Hidup Beriman, Kasih dan Iman | Leave a comment

Retret Keluarga

Bulan depan, anak saya Amanda, sudah akan perpisahan TK. Itu menyadarkan saya bahwa ternyata sudah 7 tahun kami membangun keluarga. Waktu begitu cepat berlalu.  Saya menikah setelah 30 tahun  jadi Jesuit, dan 17 tahun jadi imam SJ. Tahun ini, 2011, saya merayakan 25 tahun imamat, 41 tahun lalu saya masuk SJ.  Dibandingkan dengan perjalanan hidup saya sebagai religius dan hidup berkeluarga saya, waktu 7 tahun belumlah seberapa. Namun, demikian, pengalaman iman kami,  saya bersama istri dan anak-anak sungguh agung  luar biasa.

Saya sungguh beruntung dianugerahi Tuhan, istri yang penuh cinta, Elizabeth Dianawati, dan putri-putri yang sangat membanggakan lagi inspiratif, Amanda dan Aubrey. Dari mereka saya selalu mendapat semangat baru. Lewat mereka saya dididik Tuhan menjadi lebih manusiawi, lebih berani hidup daripada sebelumnya. Bersama anak istri pula, kujalani hidup yang penuh tantangan dan sekaligus undangan untuk semakin beriman selama ini, sampai selesai nanti.

Buat kami, saya dan istri, kekayaan cinta, kekayaan iman, keindahan harapan, kelimpahan pengalaman selama 7 tahun terlalu berharga untuk dibiarkan berlalu, terlalu banyak untuk kami nikmati sendiri.  Sejatinya kami ingin berbagi dengan sahabat-sahabat istimewa, seperti Rm Tom Jacobs SJ, Rm Fred Heselaars SJ yang telah bersama Bapa di surga. Om Ari Warokka, teman seperjalanan dan sepeziarahan, menyusuri lembah mendaki bukit kehidupan dan cinta. Pak Michael Haribowo, yang kini sedang menjalani terapi penyembuhan. , yang setia mengasihi suami dan sesamanya, termasuk kami. Dan banyak orang-orang dekat lain, bahkan mereka yang “jauh”,  yang saya yakini, semuanya diutus Tuhan untuk membantu kami membangun keluarga kami.

Untuk mensyukuri agungnya kasih Tuhan lewat keluarga kami; untuk dapat mengenyam kembali indahnya kasih  pendidikan Tuhan dalam hidup keluarga kami; untuk menegaskan kehendakNya dan mengintegrasikannya dengan rencana, pikiran, perasaan, dan keyakinan kami; kami memutuskan untuk mengadakan retret keluarga. Kami mengisi tri hari suci tahun ini dengan  triduum, retret keluarga kami. Semoga buah-buahnya nanti dapat bermanfaat tidak hanya untuk keluarga kami, tetapi juga untuk banyak keluarga lain juga.

Mohon dukungan doa.

Tuhan memberkati Anda dan orang-orang tercinta dalam hidup Anda, keluarga Anda, sahabat-sahabat Anda.

Categories: Hidup Beriman, Keluarga, Refleksi Iman, Refleksi Kehidupan | Leave a comment

Lima tahun pertama

Menurut ilmu dan dikuatkan oleh pengalaman, yang paling menentukan dalam hidup seseorang adalah apa yang dialami selama 5 tahun pertama dalam hidupnya. Kalau 5 tahun pertama, -sebetulnya sudah dimulai sejak dikandung ibunya,- dia mengalami tidak/kurang dicinta, maka selama hidupnya ia akan menjadi arjuna mencari cinta. Kalau 5 tahun pertama ia mengalami dicinta, maka kerangka dan materi dasar hidupnya sudah  diberi yang terbaik: cinta. Tidak berarti orang tidak berkembang lagi setelah 5 tahun pertama. Ia tetap berkembang. Tetapi yang dikembangkan adalah potensi yang default nya sudah dibangun dalam 5 tahun pertama tersebut.

Kalau percaya ini, silakan cintai anak Anda, minimal selama 5 tahun pertama hidupmya. Seperti apa cara dan wujud cinta Anda, tergantung pada diri Anda sendiri. Minimal ada perbuatan atau tindakan konkret tentang cinta Anda itu. Jangan hanya konsep dan kata-kata cinta, tanpa perbuatan cinta.Dan jangan salah, anak dapat merasakan cinta Anda tersebut.

Selamat mencoba mengetrapkannya.

 

Categories: Refleksi Kehidupan | Leave a comment

Jual Mutu Pribadimu!

Menjual  mutu pribadimu!

Pagi hari Minggu kemarin, sepulang dari gereja, kami jalan-jalan sekeluarga. Maksudnya mau membeli handel pintu baru rumah kami.  Saya puas, menemukan kunci produk Italy yang mutu tinggi dan harganya terjangkau.

Sepanjang jalan kami melihat bahwa beberapa warung makan favorit keluarga kami yang ternyata sudah tutup. Rasanya sedih dan kehilangan. Sebab masakannya enak, tempatnya enak, harganya nyaman. Nyaman berarti kita dapat memilih pesan menu makanan tanpa perlu cemas jangan-jangan uang di tangan tak cukup…..

Banyak dari antara kita dididik untuk mengejar mutu. Sekolah yang paling mutu. Belajar, sampai kurus… maksud saya kursus apa-apa diikuti, demi mutu. Penampilan juga dikejar yang paling mutu. Pendeknya, otak, agama, moral, perilaku… paling mutu.

Sampai di sini, sebenarnya OK saja, tak salah.

Cuma ada satu hal yang kita masih kurang: menjual. Kita kurang belajar agar kemampuan kita menjual itu mencapai taraf paling tinggi, paling baik, paling mutu. Kemampuan menjual akan mengandaikan kemampuan kita berpromosi. Kita kurang promosi. Kita kurang belajar mempromosikan “mutu” kita. Bahkan mempromosikan “diri” pun tidak. Salah satu sebabnya, dari kecil, kita diajari “jadi orang, jangan sombong!” Mempromosikan diri dinilai “sombong”. Secara moral dianggap kurang baik.

Padahal, secara moral juga, sebenarnya ada nilai yang lebih mutu daripada baik-buruk. Yakni nilai tanggungjawab. Maka, secara moral, sebenarnya kita harus bertanggungjawab. Kalau kita tidak berpromosi, di dunia ini, yang mempromosikan diri justru  mereka yang sebenarnya kurang mutu. Jadi sebenarnya mutu kita, untuk apa, kalau dunia tak mendapat nilainya. Dunia kecewa, rugi dan kehilangan, seperti kami kecewa kehilangan warung makan.  Itu akan terjadi, kalau semua orang mutu memilih diam, menanti “pembeli” di istana sendiri; tak mustahil nasibnya seperti warung-makan favorit kami itu: mutu tapi terpaksa tutup, tanpa pembeli. Dunia kecewa, bahkan tak maju, meski Anda, saya, kita semua bermutu tinggi.

Jadi, mulai saat ini, mari kita bertanggungjawab secara moral. Promosikan, jual, “mutu” pribadi, mutu hati, mutu otak kita ke dunia. Dunia menanti sumbang peran kita dalam hal ini.

Semarang, 4 April 2011

Categories: Refleksi Iman, Refleksi Kehidupan | Leave a comment

Belajar dari Puteri Kami

Belajar (lagi) dari Amanda

Amanda, anak pertama kami, dari kandungan sudah berkomunikasi dengan mamanya dalam bahasa Inggris.  Jadi, di usia TK, berkomunikasi dalam bahasa Inggris sudah tidak ada masalah sama sekali.  (waktu pertama masuk TK malah belum bisa berbahasa Indonesia dengan lancar). Tetapi bahwa Amanda harus mengikuti  Spelling Competition, itu tak terbayangkan oleh kami berdua sebagai orangtuanya.

Pertama saya menolak. Alasannya, saya tidak melihat nilainya belajar spelling untuk  anak TK. Saya cari tahu, dan mau belajar, siapa yang dapat menjelaskan kenapa anak TK kok lomba spelling. Salah satu teman yang pernah mendalami Bahasa Inggris memberi clue: karena anak antusias sekali kalau dapat mengeja dengan benar dan dengan suara keras. Ia menambahkan, banyak anak Indonesia yang mampu meraih nilai tinggi untuk spelling ketika harus tes masuk sekolah di luar negeri, tapi kemudian prestasinya menurun karena tidak bisa menjawab, mengekspresikan, dan mengkomunikasikan idenya dalam Bahasa Inggris. Saya mengerti penjelasan tersebut tetapi saya belum bisa menerimanya.

Mamanya Amanda mengingatkan saya akan semangat entrepreneurship kami.  Kami memang belum pernah secara khusus mengajari Amanda membaca dan mengeja dalam Bahasa Inggris, bahkan juga dalam Bahasa Indonesia. Amanda baru TK, masa-masanya bermain, jadi biar saja dia belajar lewat bermain. Jadi, keputusan untuk ikut lomba Ini kan tantangan buat Amanda dan buat kita juga.  Dan nanti kita cari pembelajarannya.

Inilah pembelajaran tersebut:

  1. Tantangan

Kompetisi adalah tantangan dan kesempatan buat Amanda dan buat kami juga. Ini kesempatan untuk ‘keluar’ dari TK Amanda, dan bertemu dengan teman-teman dari sekolah-sekolah lain. Ini juga kesempatan untuk belajar menulis, membaca, dan mengeja dalam Bahasa Inggris. Bagi kami, ini jadi tantangan bagaimana menyiapkan Amanda belajar spelling dalam waktu sekitar seminggu.  Bagaimana mamanya  Amanda dapat menemukan cara untuk membuat Amanda senang belajar spelling dalam waktu yang terbatas.

Di luar bayangan kami, ternyata Amanda sungguh fast learner.  Kemampuan belajarnya tiap hari maju pesat. Ini mengagumkan, sekaligus menyadarkan kami bahwa kami toh belum mengoptimalkan potensinya.  Artinya Amanda masih sanggup ditantang lebih dari yang sudah lakukan selama ini.

  1. Project Management

Karena kami ingin lomba ini adalah keinginan anak, maka pertama-tama  kami tanya Amanda dulu. Seperti biasa, kami menawarkan ke Amanda apa ia mau ikut lomba spelling Bahasa Inggris. Jawabnya,  jelas dan tegas “I will!”.

Langkah selanjutnya  adalah menjadikan lomba ini sebagai project keluarga. Kami terinspirasi dari sekolah di Jerman, bahwa setiap PR, tugas, atau apapun juga merupakan sebuah project bagi murid-muridnya. Mereka menentukan sendiri kapan project itu selesai, bagaimana menyelesaikannya, dan mereka juga diminta untuk menyampaikan bagaimana pengalaman mereka mengerjakan proyek tersebut.  Bagaimana perasaan mereka, bagaimana pendapat mereka atas tugas yang diberikan, dan usulan mereka untuk tugas berikutnya.

Kita pun membagi tugas. Kita punya waktu seminggu untuk menyiapkan diri. Amanda kita ajak mendisain projectnya sendiri. Ia menentukan sendiri hari ini belajar numbers, besok belajar animals,  lusa belajar transportation, dsb. Amanda juga harus me-manage kapan harus mengerjakan tugas sekolah, kapan belajar untuk lomba, tidur, main, dan yang terpenting kapan nonton movie (her favorite time, dan ini nggak boleh ketinggalan … hehehehe ..). Mamanya menyiapkan bahan-bahan, fotocopy, gunting gambar, tempel gambar, sedemikian rupa seperti testnya nanti. Ini seperti me-recall pengalamannya waktu jadi guru Bahasa Inggris untuk SD Kanisius di Yogya dulu. Beruntung ada banyak buku dan cards Teko Cilik yang bisa dipakai sebagai sarana belajar.

Dan sekali lagi, kami terkagum-kagum akan kedisiplinan Amanda tertip rencananya. Ia sendiri konsekuen dan konsisten dengan rencananya. Kalau lelah, dia mengubah rencananya dan menjalaninya seperti maunya.

  1. Self confindence

Di hari H perlombaan, mamanya lebih deg-degan daripada Amanda. Maklum, mamanya dulu selalu juara dari TK sampai SMA… heheheh … Dan kami melihat dengan mata kepala kami, sambil geleng-geleng kepala, betapa Amanda memasuki ruang perlombaan dengan santai dan yakin.  Dia sudah happy, jadi peserta lomba, dan diantar oleh kedua orangtuanya dan adik tercintanya. Ada beberapa peserta yang masih menangis di ruang lomba, karena minta ditunggui mamanya. Amanda sama sekali tak perlu orangtuanya. Kami bilang  be yourself, do your best.

  1. Nilai sebuah kesuksesan

Sejak semula, kami  sepakat  untuk tidak meletakkan nilai kesuksesan pada pemenang lomba di hari H nya. Berkali dan kami ulang terus-menerus keyakinan kami dan keyakinan Amanda bahwa the  real winner, is when you beat yourself.  Try all the best.  Jangan besar kepala ketika menang lomba,  Jangat menangis kala tak menang lomba.

Kami bilang ke Amanda, seminggu lalu Amanda belum bisa menulis, mengeja dan membaca dalam Bahasa Inggris. Sekarang Amanda sudah mulai mengenal dan bisa menulis, mengeja, dan membaca beberapa kata dalam Bahasa Inggris. So, you have already won! Bahkan Aubrey sekarang terbiasa em, si, ke, bla.. bla .. hehehehe … walaupun dia sendiri belum mengerti maksudnya apa …

Ketika babak I selesai, Amanda memang tidak menang, atau masuk 10 besar, atau maju ke final. Tetapi, dari 25 soal spelling, Amanda betul 21.  Mamanya surprise sendiri, tidak menyangka. Karena Amanda senang dan tidak takut ikut lomba saja kami sudah senang.

Kami tanya Amanda gimana perasaannya ikut lomba, dan tidak menang kali ini. “I am oke, and I still can make it some other time,” katanya. Amanda sudah menang sebelum maju lomba. Amanda happy, Aubrey happy, kami happy. Itulah prinsip kami belajar bahasa : senang!

Semarang, Maret 2011Amanda

Categories: Refleksi Iman, Uncategorized | Leave a comment

Mengampuni diri sendiri

Petrus bertanya “Tuhan, sampai berapa kalikah saya harus mengampunai saudaraku, sampai 7 x kah?”  Jawab Yesus:  “Bukan hanya tuju kali, melainkan sampai 70 x 7 x.”

Artinya Tuhan meminta kita mengampuni sampai tak terhitung, tak terbatas. Padahal batasan pertama sudah siap menghadang: diri sendiri. Begitulah pengalaman kita. Sebelum kita bicara tentang mengampuni orang lain, kita sudah tersandung pada kenyataan sulitnya mengampuni diri sendiri. Contohnya,  kita kehilangan sesuatu, apalagi kalau sesuatu itu amat berharga, karena keteledoran kita. Betapa sulitnya kita mengampuni diri kita sendiri. “Kok bisa saya melakukan kegoblogan ini!”  Butuh waktu berhari-hari untuk menerima kenyataan tersebut. Itu baru menerima, belum tahap mengampuni.

Konsekuensi dari ketidakmampuan kita mengampuni diri kita, kita akan menvonis atau menghukum diri kita sendiri. Bila ini terjadi masih cukup baik. Sebab ada yang langsung menyalahkan orang lain atas peristiwa tersebut.  Kadang Tuhan juga jadi sasaran kita. Lepas dari bentuknya ke dalam atau ke luar dari diri sendiri, tanda-tandanya jelas, ketika kita belum mampu mengampuni diri sendiri. Yaitu ketika perilaku kita menjadi agresif terhadap apa atau siapa pun di sekitar kita. Termasuk, atau malah terutama orang-orang tercintalah yang akan jadi sasaran atau kurban terdekatnya. Sebab kita pikir merekalah yang akan mengerti kelakuan kita yang demikian. Tetapi, sebenarnya tidak fair. Orang-orang terdekatlah yang pasti paling kita harapkan dukungannya, kok malah paling cepat jadi kurban kita. Kurban ketidakmampuan kita mengampuni diri kita sendiri.

Kesanggupan menerima, mengampuni diri adalah kalau kita ingin membawa kasih. Kasih tak mungkin terbawa jika tak ada damai dalam diri kita. Tak mungkin ada damai di hati, kita, jika kita belum dapat mengampuni diri sendiri.

Categories: Hidup Beriman, Refleksi Iman | Leave a comment

Puji Dan Syukur Kami

Hari ini entam tahun silam

18  Nopember 2004

kami berjanji saling cinta

sebagai suami istri,

YR Widadaprayitna dan Elizabeth Dianawati

Terimakasih Tuhan

untuk kasih, rahmat dan cintaMu

buat keluarga kami,

khususnya buat Amanda dan Aubrey

yang Kauhadiahkan buat  kami.

Amin.

Categories: Keluarga | Leave a comment

Blog at WordPress.com. Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.